Program Kebaikan

Saya dapat pelajaran berharga siang tadi, Ahad (1/3/2020). Bukan kebetulan, saya berada di Wawondula, Towuti untuk mengikuti suatu kegiatan. Pelajaran itu saya dapat dari salah seorang pemateri.

Menurut pemateri itu, yang namanya kebaikan memang harus diprogramkan. Agar menjadi kebiasaan. Selanjutnya menjadi budaya,  lalu mengkarakter.

Sang pemateri kemudian mencoba membawanya dalam ranah ibadah. Misalnya, dulu sempat viral gerakan one day one juz. Jika kebaikan ini hanya insedentil saja,  maka ia tak akan bisa menjadi program rutin.

Pun demikian dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Jika tak diprogram dengan baik dan berkesinambungan, maka ia hanya akan menjadi "panas-panas tahi ayam".

Saya lalu mencoba mengaitkan dengan program 30DWC.  Hingga jilid 22 ini, saya sudah ke sekian kalinya ikut. Mengapa ikut lagi? Karena 30 hari belum cukup membuat saya terbiasa dalam menulis.

Sebagian orang mengatakan, membangun habbits hanya butuh 7 hari. Ada yang bilang 20 hari. Dan ada yang bilang 30 hari. Inilah yang mungkin dianut 30DWC.

Sayangnya, bagi saya itu belum cukup. Saya butuh tambahan waktu lagi untuk menjadikan menulis sebagai kebiasaan saya.

Kuncinya, kata sang pemateri tadi, agar program kebaikan itu bisa berjalan maksimal, dibutuhkan komitmen dan azzam yang kuat. Tanpa dua hal ini, maka tidak mudah menjadikannya kebiasaan.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.