Amarahmu Tidak Membuatnya Berubah
Saya ingin membuat suatu gambaran. Silahkan Anda membayangkan gambaran tersebut dalam kehidupan nyata. Seolah Anda berada dalam kondisi tersebut, berikut ini.
Anda sedang bersiap menerima tamu penting. Ruang tamu sudah steril. Bersih, cling. Taplak meja telah diganti yang baru. Di atasnya aneka hidangan telah tersaji dan tertata rapi.
Tiba-tiba, anak Anda datang. Masuk ke dalam rumah, tidak pakai salam. Di tangannya yang mungil, ada pasir yang dia gengam.
Tanpa ba-bi-bu, dia hambur pasir tersebut di atas hidangan. Lalu, ia keluar lagi dan masuk kembali dengan pasir di tangan. Dan mengulangi hal yang sama di hidangan yang lain.
Anda belum sadar apa yang terjadi. Hingga akhirnya Anda sadar dan mendapati hal yang di luar dugaan: semua makanan telah tercampur dengan pasir.
Sementara itu si Bungsu tertangkap basah sedang menabur pasir di wadah hidangan terakhir. Tak ada beban.
Pertanyaannya, apa yang Anda lakukan melihat hidangan yang disiapkan dikotori oleh pasir?
Mungkin, berdasarkan keumuman, Anda akan marah besar. Amarah Anda akan naik ke ubun-ubun. Lalu berteriak keras dan kencang.
Memanggil namanya. Mencubit lengannya. Memarahinya habis-habisan. Sampai Anda berkeringat karena emosi yang begitu meluap.
Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, apakah Bungsu paham dengan apa yang dia lakukan. Atau, apakah kemudian dia berhenti ketika Anda sambil marah lalu mencegahnya.
Rasanya tidak.
Memarahinya, tidak membuatnya berubah. Dia akan tetap anak-anak yang belum mengerti. Saat itu, mungkin dia akan berhenti.
Tetapi, keaktifannya akan kembali lagi. Keaktifan yang kita menilainya negatif sebagai liar dan susah diatur. Hingga kita mencapnya sebagai kenakalan.
Marah, tidak akan membuatnya mengurangi keaktifan. Justru itu akan menjadi, dan Anda menjustfikasinya menjadi tambah nakal.
Anda sedang bersiap menerima tamu penting. Ruang tamu sudah steril. Bersih, cling. Taplak meja telah diganti yang baru. Di atasnya aneka hidangan telah tersaji dan tertata rapi.
Tiba-tiba, anak Anda datang. Masuk ke dalam rumah, tidak pakai salam. Di tangannya yang mungil, ada pasir yang dia gengam.
Tanpa ba-bi-bu, dia hambur pasir tersebut di atas hidangan. Lalu, ia keluar lagi dan masuk kembali dengan pasir di tangan. Dan mengulangi hal yang sama di hidangan yang lain.
Anda belum sadar apa yang terjadi. Hingga akhirnya Anda sadar dan mendapati hal yang di luar dugaan: semua makanan telah tercampur dengan pasir.
Sementara itu si Bungsu tertangkap basah sedang menabur pasir di wadah hidangan terakhir. Tak ada beban.
Pertanyaannya, apa yang Anda lakukan melihat hidangan yang disiapkan dikotori oleh pasir?
Mungkin, berdasarkan keumuman, Anda akan marah besar. Amarah Anda akan naik ke ubun-ubun. Lalu berteriak keras dan kencang.
Memanggil namanya. Mencubit lengannya. Memarahinya habis-habisan. Sampai Anda berkeringat karena emosi yang begitu meluap.
Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, apakah Bungsu paham dengan apa yang dia lakukan. Atau, apakah kemudian dia berhenti ketika Anda sambil marah lalu mencegahnya.
Rasanya tidak.
Memarahinya, tidak membuatnya berubah. Dia akan tetap anak-anak yang belum mengerti. Saat itu, mungkin dia akan berhenti.
Tetapi, keaktifannya akan kembali lagi. Keaktifan yang kita menilainya negatif sebagai liar dan susah diatur. Hingga kita mencapnya sebagai kenakalan.
Marah, tidak akan membuatnya mengurangi keaktifan. Justru itu akan menjadi, dan Anda menjustfikasinya menjadi tambah nakal.
Tidak ada komentar