Dukungan Berarti

Sejak beberapa hari ini, niat saya melanjutkan kembali menguat. Ada beasiswa yang insya Allah bisa mewujudkan mimpi itu. Hari ini, Rabu (11/3/2020), niat itu akhirnya saya sampaikan ke istri. Apa responnya?

"Emang, Kakak mau kuliah di mana?" Tanyanya pertama kali setelah tahu niat saya itu.

Dalam pertanyaan itu, ada nada ketidaksiapan. Wajar, usia pernikahan kami baru beranjak ke usia dewasa. Masih tahap belajar. Tapi hasilnya sudah empat.

Saya sampaikan tiga pilihan yang saya ambil. Universitas Ankara di Turki, atau Universitas Malaya Malaysia, dan AlAzhar Mesir.

Saya jelaskan juga, ketiga PT inilah yang opsinya sesuai dengan jurusan S1 saya.

"Adek nggak sanggup loh, Kak, kalau jauh-jauh," katanya menanggapi.

Saya kemudian menjelaskan lagi kemungkinan bisanya membawa keluarga dalam proses belajar. Beasiswa yang saya kejar untuk kuliah postgraduate itu memang menyiapkan tunjangan keluarga.

"Tapi, dana itu hanya ada untuk jenjang doktoral," kata saya menambahkan.

Nah, untuk kuliah doktoral, tentu harus magister dulu. Jadi, kalau mau ikut mendamipingi kuliah, minimal kelarin dulu S2.

"Yah, bersabar dulu 2 tahun untuk bisa ikut temani ngambil S3," kata saya lagi.

"Kenapa gak di sini aja, sih, kuliahnya?" tanya dia.

Sudah ada nada penerimaan dalam tanyanya ini. Artinya, kalau mau kuliah lagi, bisa saja ambil yang dekat. Biar bisa pulang kapan saja.

Tapi bagi saya, kalau ada peluang, kenapa tidak disergap. Beasiswa yang (akan) saya kejar, membuka peluang sangat lebar untuk itu.

Toh, 2 tahun itu tidak lama, insya Allah.

Mendapat penjelasan itu, dia akhirnya bilang," Yah, gk papa juga sih. Biar bisa atur jarak."

Dia bilang begitu, karena anak-anak kami begitu rapat. Tidak ada yang disusui sempurna selama dua tahun.

Sulung saya lahir, setahun setelah menikah. Tahun berikutnya, adiknya lahir. Ketika si sulung belum genap dua tahun. Begitu seterusnya hingga anak ke empat lahir.

Yang keempat ini, perempuan. Yang pertama setelah 3 kali percobaan. Makanya kami, khususnya dia, berazzam memberikan hak susuannya secara penuh.

Itulah mengapa, pada akhirnya ia mengatakan tak mengapa. Karena dengan begitu, si bungsu bisa maksimal mendapatkan hak ASInya.

Alhamdulilah, niat baik ini didukung dengan baik. Tinggal menjaga niat ini agar menjadi nyata. Dengan usaha, doa dan tawakkal.

Bismillah: Turki I'm coming.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.