Mari Bermimpi
"Coba sebutkan impian kalian," tanya salah seorang di antara mereka.
Mereka sedang berkumpul tepat di bawah bayangan Kakbah. Ketika matahari sedang membagi hangatnya di pagi itu.
"Aku ingin menjadi khalifah," kata Abdullah.
"Aku punya mimpi ingin jadi ulama," sahut Urwah.
Orang ke tiga tak mau kalah. "Aku punya cita-cita jadi Gubermut Irak, lalu menikah dengan Aisyah dan Sukainah," seru Mush'ab.
Ketiga bersaudara anak Zubair itu kemudian balik bertanya. "Kamu, apa impianmu?"
Yang ditanya bernama Abdullah juga. Putra dari Umar bin Khattab.
"Sederhana: aku ingin mendapat ampunan Allah," katanya yakin.
Begitulah, empat orang tersebut menyatakan mimpinya di samping kakbah yang diberkahi.
Sejarah kemudian mencatat. Impian 3 bersaudara itu terwujud. Menjadi kenyataan. Kecuali Abdullah bin Umar, kita belum tahu sebab itu rahasiaNya.
Kisah tersebut dibawakan oleh Abu Nua'im dalam Al Hilyah. Dua di antara mereka adalah shahabat nabi. Dua lainnya adalah tabi'in.
Dalam Islam, mimpi adalah boleh. Tapi yang kita maksudkan adalah mimpi di siang bolong dalam keadaan sadar. Bukan mimpi sebagai bunga tidur.
Lihatlah empat sekawan itu. Mereka muda, dan punya mimpi. Impian mereka adalah cita-cita hidup mereka. Menjadi visi besar yang mereka ingin wujudkan. Dan sejarah mencatat, semua menjadi kenyataan.
Memiliki impian dan punya cita-cita, adalah hak setiap orang. Allah menganugerahkan kepada setiap orang untuk bisa memilikinya. Dan itu diberikan gratis.
Maka tidak ada larangan untuk bermimpi. Yang dilarang adalah angan-angan yang melampaui batas. Angan-angan yang hanya khayalan.
Hanya saja, yang perlu digaris bawahi adalah mematuhi jalur. Tetap berada pada koridor. Yang mengantar pada kesuksesan dari mimpi.
Adalah keliru, jika orang hanya bermimpi, tapi tidak menempuh jalan yang benar untuk memwujudkan mimpinya.
Maka, mari bermimpi. Selagi ia gratis.
Mereka sedang berkumpul tepat di bawah bayangan Kakbah. Ketika matahari sedang membagi hangatnya di pagi itu.
"Aku ingin menjadi khalifah," kata Abdullah.
"Aku punya mimpi ingin jadi ulama," sahut Urwah.
Orang ke tiga tak mau kalah. "Aku punya cita-cita jadi Gubermut Irak, lalu menikah dengan Aisyah dan Sukainah," seru Mush'ab.
Ketiga bersaudara anak Zubair itu kemudian balik bertanya. "Kamu, apa impianmu?"
Yang ditanya bernama Abdullah juga. Putra dari Umar bin Khattab.
"Sederhana: aku ingin mendapat ampunan Allah," katanya yakin.
Begitulah, empat orang tersebut menyatakan mimpinya di samping kakbah yang diberkahi.
Sejarah kemudian mencatat. Impian 3 bersaudara itu terwujud. Menjadi kenyataan. Kecuali Abdullah bin Umar, kita belum tahu sebab itu rahasiaNya.
Kisah tersebut dibawakan oleh Abu Nua'im dalam Al Hilyah. Dua di antara mereka adalah shahabat nabi. Dua lainnya adalah tabi'in.
Dalam Islam, mimpi adalah boleh. Tapi yang kita maksudkan adalah mimpi di siang bolong dalam keadaan sadar. Bukan mimpi sebagai bunga tidur.
Lihatlah empat sekawan itu. Mereka muda, dan punya mimpi. Impian mereka adalah cita-cita hidup mereka. Menjadi visi besar yang mereka ingin wujudkan. Dan sejarah mencatat, semua menjadi kenyataan.
Memiliki impian dan punya cita-cita, adalah hak setiap orang. Allah menganugerahkan kepada setiap orang untuk bisa memilikinya. Dan itu diberikan gratis.
Maka tidak ada larangan untuk bermimpi. Yang dilarang adalah angan-angan yang melampaui batas. Angan-angan yang hanya khayalan.
Hanya saja, yang perlu digaris bawahi adalah mematuhi jalur. Tetap berada pada koridor. Yang mengantar pada kesuksesan dari mimpi.
Adalah keliru, jika orang hanya bermimpi, tapi tidak menempuh jalan yang benar untuk memwujudkan mimpinya.
Maka, mari bermimpi. Selagi ia gratis.
Tidak ada komentar