Janji yang Terabai


Malam ini, saya harusnya menulis sesuai janji. Tentang Corona dari sudut pandang berbeda. Seperti janji saya sebelumnya. Sayangnya, itu mungkin akan tertunda lagi.

Pasalnya, saya sedang safar. Sedang dalam perjalanan. Untuk menghadiri sebuah kegiatan di ujung (barat, atau timur, ya?) dari Sulawesi Selatan. Sehingga cerita perjalanan ini saja yang akhirnya menjadi penggugur kewajiban.

Dari rumah di Masamba, Luwu Utara, saya sebenarnya berencana menulis sesuai janji. Menulis di mobil yang akan membawa saya ke Sorowako. Pikir saya, cukuplah waktu untuk bisa menyelesaikannya. Sebelum deadline jam 23.59 WIB. Atau 00.59 WITA.

Ternyata, qaddarallah, saya yang didapuk menjadi sopir. Terbayang sudah gagal rencana. Tidak hanya itu, terbayang juga bagaimana saya harus beralasan untuk gantian bawa mobil nantinya. Untuk saya menulis ala kadarnya.

Sepanjang perjalanan, saya gelisah. Smartwatch yang saya beli onlen tempo hari selalu saya tengok. Takut kehabisan waktu, dan tulisan belum jadi.

Akhirnya, jelang 00.30-an tadi, saya disuruh berbelok di SPBU. Mobil perlu isi bensin. Eh, pertalite. Pikiran saya jalan. Saya sekalian izin untuk buang air. Sekedar beralasan untuk bisa gantian di belakang stir.

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menyetor tulisan ini sebelum atuh tempo. Tepat beberapa saat sebelum deadline. Walau hanya seperti ini, lumayan untuk menggugurkan kewajiban.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.