Dua Kehidupan
Tentang kematian, maka ia adalah kepastian. Setiap yang terlahir, akan mengalaminya. Setiap yang bernyawa, niscaya akan mati. Meski demikian, ia tetap misteri.
Disebut misteri, karena kematian hanya ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia. Hatta para malaikat sekalipun.
Sebagaimana kelahiran dan kehidupan, kematian juga diatur oleh Nya. Sendiri, tanpa sekutu. Tidak satu pun dari makhluknya yang membantu. Sebab Kuasa Nya tak memerlukan itu.
Ketika kematian datang, tak akan ada yang mampu mencegahnya. Di mana pun sembunyi, mati akan tiba. Ke mana pun berlari, mati pasti menyapa.
Kematian bagi setiap insan, terjadi dua kali. Kematian pertama adalah setelah berupa nuthfah, alaqoh dan mudghah sebelum ditiupkan ruh.
Kematian kedua adalah setelah hidup di dunia. Ketika jatah hidupnya berakhir, inilah kematian kedua itu. Dan inilah kematian hakiki. Kematian yang memutus rantai kelezatan hidup dunia.
Kematian ini adalah proses awal untuk penghakiman. Yaitu, sidang atas segala yang menjadi perbuatan selama hidup di dunia. Apakah dia harus mendapatkan azab kubur, atau nikmat kubur.
Jika dalam kehidupan banyak amal yang dikerja, banyak karya yang tericipta, banyak ibadah terlaksana, dan semua dibingkai dalam iman dan taqwa, maka kita berharap nikmatlah yang didapatkan.
Sebaliknya, jika tidak demikian, kita khawatir azablah yang akan diterima.
Sehingga, kematian sebenarnya tidak perlu menjadi momok. Dan tidak perlu dianggap sesuatu yang menakutkan.
Menghadapi kematian yang niscaya itu, yang harus dipastikan adalah kita telah menyiapkan diri. Tentu dengan segala potensi yang telah diberikan kepada kita. Dan memaksimalkannya untuk kebaikan-kebaikan, yang terbingkai dalam iman dan taqwa.
Semoga dengan itu, kita bisa menghadapi kematian hakiki dengan tenang dan aman. Lalu, menjalani episode terakhir dalam kehidupan hakiki nan abadi di akhirat nanti. Tentunya dengan keselamatan juga, insya Allah.
Disebut misteri, karena kematian hanya ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia. Hatta para malaikat sekalipun.
Sebagaimana kelahiran dan kehidupan, kematian juga diatur oleh Nya. Sendiri, tanpa sekutu. Tidak satu pun dari makhluknya yang membantu. Sebab Kuasa Nya tak memerlukan itu.
Ketika kematian datang, tak akan ada yang mampu mencegahnya. Di mana pun sembunyi, mati akan tiba. Ke mana pun berlari, mati pasti menyapa.
Kematian bagi setiap insan, terjadi dua kali. Kematian pertama adalah setelah berupa nuthfah, alaqoh dan mudghah sebelum ditiupkan ruh.
Kematian kedua adalah setelah hidup di dunia. Ketika jatah hidupnya berakhir, inilah kematian kedua itu. Dan inilah kematian hakiki. Kematian yang memutus rantai kelezatan hidup dunia.
Kematian ini adalah proses awal untuk penghakiman. Yaitu, sidang atas segala yang menjadi perbuatan selama hidup di dunia. Apakah dia harus mendapatkan azab kubur, atau nikmat kubur.
Jika dalam kehidupan banyak amal yang dikerja, banyak karya yang tericipta, banyak ibadah terlaksana, dan semua dibingkai dalam iman dan taqwa, maka kita berharap nikmatlah yang didapatkan.
Sebaliknya, jika tidak demikian, kita khawatir azablah yang akan diterima.
Sehingga, kematian sebenarnya tidak perlu menjadi momok. Dan tidak perlu dianggap sesuatu yang menakutkan.
Menghadapi kematian yang niscaya itu, yang harus dipastikan adalah kita telah menyiapkan diri. Tentu dengan segala potensi yang telah diberikan kepada kita. Dan memaksimalkannya untuk kebaikan-kebaikan, yang terbingkai dalam iman dan taqwa.
Semoga dengan itu, kita bisa menghadapi kematian hakiki dengan tenang dan aman. Lalu, menjalani episode terakhir dalam kehidupan hakiki nan abadi di akhirat nanti. Tentunya dengan keselamatan juga, insya Allah.
Tidak ada komentar