Kehilangan Kunci
Tentang kelahiran, maka semua manusia dilahirkan dalam
keadaan bertauhid. Yakni mengakui Allah sebagai Tuhannya. Dan juga meyakini
bahwa Allah adalah satu-satunya yang paling berhak diibadahi dan disembah.
Pengakuan dan keyakinan ini dimiliki oleh setiap manusia, pada awalnya.
Hanya saja, kehidupan terus berjalan. Situasi dan
kondisi berubah. Mengikuti hidup dan kehidupan. Pun demikian dengan pengakuan
itu. Akhirnya ia luntur dan pupus seiring perjalanan. Walau tetap saja ada
oarng yang menjaga ikrarnya itu.
Demikian pula dengan keyakinan. Seiring berjalannya kehidupan,
keyakinan itu perlahan menyusut dan terkikis. Hingga lenyap tak berbekas. Walau
demikian, selalu ada orang-orang yang menjaga keyakinan itu.
Dalam ayatNya Allah menegaskan. Bahwa setiap manusia
diminta berikrar tentang siapa Tuhannya. Dalam rangka menjadi catatan
tersendiri bahwa semua manusia telah diminta untuk berikrar dan menjaga ikrar
ketauhidannya itu.
Ayat ke 172 dari surat AlA'raf menyinggung hal itu.
Allah bertanya,
"Bukankah Aku adalah Tuhanmu?"
Pertanyaan ini diberikan kepada setiap manusia.
Digambarkan, setiap janin dalam kandungan, akan dikeluarkan rohnya dari tulang
belakang. Lalu mereka, setiap dari manusia, ditanya dengan hal itu.
Menjawab pertanyaan itu, semua manusia mengatakan hal
yang sama. "Benar, Engkau adalah Tuhanku. Dan kami bersaksi atas
itu."
Sayangnya, ikrar itu ternoda. Oleh banyak hal yang
ditemukan dalam perjalanan hidup setelah keluar dari alam rahim.
Nabi yang mulia melalui sabdanya yang menggema menjawab
problematik itu. Sebuah pertanyaan mengapa banyak manusia yang menyalahi
ikrarnya di alam rahim sebelumnya. Bahwa Dia adalah Tuhannya.
"Maka bapak-ibu-nya-lah yang menjadikannya Yahudi,
Majusi atau Nashrani," kata Baginda Nabi.
Bahwa, ketika ikrar itu tidak dipelihara dengan baik,
maka konsekuensinya adalah kehilangan ikrar. Artinya, tauhidnya lepas. Padahal
itulah perkara pokok dan esensial. Yang dengannya seseoang memegang kuncis
surga.

Tidak ada komentar