Inilah Realitanya


Sepanjang siang Sabtu (7/3/2020) ini, saya mendapat banyak pencerahan soal pendidikan negeri ini. Bukan pada realitasnya. Tapi pada wacana dan idealitanya. Masya Allah, dari kacamata sederhana saya, itu top sekali.

Kurikulum pendidikan yang dianut hari ini, mengantarkan seorang peserta didik memiliki tiga kompetensi utama. Yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Pada kompetensi sikap seorang murid diharapkan memiliki sosial dan spiritual yang baik. Sosial itu berbicara mengenai hubungannya dengan sesama. Spiritualnya berhubungan dengan Penciptanya.

Berikutnya, seorang murid dituntut untuk memiliki kompetensi pengetahuan dengan empat tingkatan.

Pertama, pengetahuan berbasis faktual. Dengan pengetahuan ini, seorang murid mengenal dan mengetahui sesuatu sesuai dengan faktanya.

Itu tingkatan pengetahuan pertama seorang murid.

Kedua, mengetahui secara konseptual. Dengan ini, murid diantar untuk bisa mengetahui dan membedakan sesuatu dengan sesuatu lainnya.

Tidak cukup hanya berdasarkan fakta, di tingkat kedua ini, murid mengetahui sesuatu secara konsep.

Selanjutnya, di tingkat ketiga, murid mampu mengetahui secara prosedural. Artinya, dia mampu mengikuti langkah-langkah dan sesuai prosedur.

Terakhir, pada tingkatan keempat, murid mengetahui secara metakognitif. Sehingga menghasilkan kesadaran atas dirinya sendiri.

Jika dibawa pada sebuah kasus, maka urutan pengetahuan itu bisa dijelaskan sebagai berikut.

Seorang guru, mengajarkan kepada murid tentang sebuah meja. Berdasarkan faktual yang ada. Ketika murid paham secara konsep, maka dia akan membedakan meja dengan yang bukan meja.

Selanjutnya setelah memahami konsep, dia bisa mengetahui langkah dan prosedur terciptanya sebuah meja.

Terakhir, ketika dia tidak mampu, akan timbul kesadaran dalam dirinya berbasis metakognitif. Dia sadar aras ketidakmampuannya dalam belajar.

Karena itu, dalam kurikulum tersebut, penilaian seorang  murid dimulai dari inputnya, prosesnya dan outputnya. Berbeda dengan yang lalu, hanya dinilai dari sisi outputnya saja.

Jika demikian, maka penilaian itu tidak hanya dari guru. Tapi siapa saja yang terliibat dalam input pendidikan seornag murid, bagaimana prosesnya dan seperti apa outputnya.

Demikianlah yang saya pahami dari penjabaran panjamg lebar siang tadi.

Sayangnya, itu hanya sekedar wacana. Seperti itu realitas yang harusnya tercipta. Sekali lagi, sayang sekali,  tidak seperti itu yang terjadi.

Sebab hari ini, banyak kasus justru murid kehilangan moralitas. Tidak memiliki akhlak yang baik. Hingga akhirnya terjadi banyak kasus yang mencoreng dunia pendidikan.

Di mana salahnya?  Ayo kita jawab bersama-sama. 😉

#Day21
#30DWCJilid22
#Squad6Empire22

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.