Mengapa Kau Menulis

https://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2019/03/26/niat-5c9966733ba7f7199369c009.png?t=o&v=350
Ilustrasi dari kompasiana.com

Suatu hari seorang murid mengadu ke gurunya. Tentang kemiskinan yang dia 
deritanya. Dan bahwa ia butuh materi lebih banyak untuk mencukupi kebutuhannya. Akhirnya, ia mohon izin ke gurunya. Ia berniat hijrah ke negeri seberang.

“Tabe, ustadz. Mau ka’ izin ke India. Ada temannya pace ku di sana yang kaya raya. Siapa tahu dia mau kasi’ ka pekerjaan.”

“Ndak. Saya ndak izinkan ko ke sana.” Potong gurunya cepat.

Sang murid mundur teratur. “Iye, paeng ustadz.” Ia sebenarnya kaget. Tidak mengira akan mendapatkan jawaban seperti itu. Tapi, adabnya kepada guru jauh lebih ia pentingkan. Sambil terus menjaga asa untuk tetap ke sana.

Waku terus berjalan. Kebutuhan hidup terus bertambah. Pemasukannya makin tidak sebanding dengan pengeluarannya. Ia rasa, tambah semoit rezekinya. Dan akhirnya, untuk kali kedua, ia menghadap lagi untuk izin.

“Tabe, ustadz. Siapa tahu boleh mi. Perlu sekali ka ke India untuk ketemu sama itu temannya Pace ku. Saya yakin dia bisa tolong ka. Karena teman baiknya bapak ku dulu itu waktunya masih hidup.” Terus saja sang murid merajuk dan membujuk. Agar ia diizinkan ke India.

“Ndak. Saya ndak izinkan ko ke sana.” Potong gurunya cepat. Jawaban yang sama untuk permintaan yang sama beberapa waktu lalu.

Sang murid pulang dari rumah gurunya dengan hati bertanya-tanya. Apa gerangan yang membuat ia gagal mendapatkan izin? Apa salahnya? Salahkah jika ingin memperbaiki kondisi ekonominya?

Ia istighfar berulang-ulang. Mencoba menahan emosi. Dan tetap berusaha menjaga adab kepada gurunya. Pilihannya hanya bersabar. Sambil muhasabah diri. Berhari-hari ia evaluasi dirinya.

Tiba-tiba ia tersadar. Ternyata, niatnya yang salah. Ia ingin ke India dan bergantung pada teman ayahnya. Padahal Allah-lah yang memberi rezeki. Bukan teman ayahnya yang kaya raya itu. Segera ia bertaubat. Dan kembali ke gurunya.

“Tabe, ustadz. Mau ka minta izin dan restu untuk ke India. Mau cari rezeki di sana. Siapa tahu Allah mau bantu ka di sana nanti.”

“Baiklah. Aku memberimu izin.” Jawab gurunya sambil tersenyum.

***

Ini adalah hari pertamaku (kembali) ngODOP. Juga bagi ratusan orang lainnya yang tergabung dalam ODOP Batch 7. ODOP adalah sebuah gerakan yang menggerakkan orang untuk lebih sering menulis; One Day One Post.

Di hari pertama ini, saya mencoba bertanya ke hati terdalam. “Hai, Adjie. Apa tujuanmu ngODOP? Untuk kepopuleran? Untuk dikenal bahwa kau penulis?”

Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Agar pengembaraan saya dengan dunia menulis, bersama ODOP tentunya, tidak salah dan keliru. Kalau niatnya sedari awal sudah salah, maka dalam proses pasti akan menemui jalan terjal. Niat sudah benar saja belum tentu akan berproses dengan baik. Apalagi belum benar.

Maka, niat adalah langkah awal. Salah seorang ulama mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang aku lebih berusaha perbaiki kecuali niatku.”

Menulis untuk konsumsi umum tentu ada konsekuensinya. Ia sama halnya dengan berbicara secara lisan. Akan ada pertanggung-jawabannya nanti. Cukuplah menjadi pengingat, bahwa “Tidaklah sesuatu keluar dari lisannya, melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatatnya.” [Q.S. Qaaf : 18]

Karenanya, dalam menulis, niat perlu selalu diperbarui. Dan diperbaiki. Sebab niat awal bisa melenceng di tengah perjalanan. Dan selalu ingat, bahwa semua tulisan, di tiap huruf-hurufnya, ada yang harus dipertanggungjawabkan di sana.

9 komentar:

  1. Mantap ... Semoga selalu semangat menulis ...

    BalasHapus
  2. Sangat setuju dengan kalimat di paragraf terakhir.. thank u for reminding me ...

    BalasHapus
  3. Kalimat terakhir ngena banget, itu yang selalu aku takutkan. Katika tulisanku hanya membuat luka pada hati orang lain😢

    BalasHapus
  4. Bener banget, sekarang bukan hanya mulutmu harimaumu tapi juga jarimu harimaumu.. mantap!

    BalasHapus
  5. MashaAllah bermanfaat sekali, innama 'amalu binniat dalam dalama sesuatu yang mau dikerjakan biar terarah Dan berkah

    BalasHapus
  6. Karena terkadang ada orang yg menulis asal2an misalnya statys wa 😁 berniat untuk mengingatkan diri sendiri eh ada yg senasib. Iya kalo kalimat kita doterima baik, kalo jatohnya disana buruk. Bisa adu argumen😂

    BalasHapus
  7. Tulisannya pengingat banget, semoga niat menulis bisa terus terjaga dan istiqomah, aamiin

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.