Nggak Mungkin Dia yang Salah

Saya pernah ditanya seorang santri tentang orang yang ahli shalat tapi tetap banyak maksiat. Disebut ahli shalat karena diketahui ia selalu berjamaah shalat lima waktu di masjid, kecuali ada uzdur. Pertanyaan itu lahir dari pengamatan si penanya terhadap aktifitas keseharian kawan santri lainnya.

"Ustadz, ada santri yang bagus shalatnya, tapi masih suka misuh. Gimana itu? Bukannya ayat bilang shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar?" Katanya sambil menukil sebuah ayat.

Dia lalu menjelaskan. Beberapa kawannya masih ada yang suka tidak bisa menjaga mulutnya dari menyakiti orang lain. Padahal menurut dia, shalatnya bagus. Selalu di masjid jamaah. Melihat hal itu, tentu mengherankan. Lalu timbullah tanya tersebut.

"Pertama, ayat tidak pernah salah." Syaa harus menegaskan ini diawal. Jangan sampai, ada anggapan bahwa ayat tersebut tidak bekerja pada si santri. Itu keliru. Sebab Firman Allah tidak mungkin salah.

Betapa naifnya jika ayat salah. Atau tidak relevan untuk suatu kejadian. Atau hanya berlaku di waktu tertentu. Sebab jija ada anggapan seperti itu, berarti Allah punya cela. Dan naudzubillah atas hal itu. Allah Maha Sempurna, dan Tidak Memiliki Cela sedikitpun.

Jika ini sudah dipahami, maka tinggal mencocokkan kemungkinan lainnya. "Karena ayat tidak mungkin salah, maka berarti shalatnya ada masalah." Ya, bisa jadi memang shalatnya yang bermasalah.

"Tadz, kalau diperhatikan, dia shalatnya yang paling khusyuk dan lama." Si penanya membela.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.