Menulis Memang Harus Dipaksakan




















Tiba-tiba saja, saya dapan pesan via whatsapp dari mantan murid. Awalnya iseng. Nanya kabar dan seterusnya. Biasa. Karena lama tak ada kabarnya. Berita terakhir, dia sedang ikut karantina menghafal selama beberapa waktu.

Setelah basa-basi, saya akhirnya tanya serius. “Udah nikah?” Pertanyaan saya sebenarnya, menurut saya, biasa aja. Sebab beberapa kawan angkatannya, setahu saya, sudah menikah.

Tapi dia kaget. “Belom lah, pak.” Buru-buru dia menjawab. Kemudian disusul dengan emoticon sedih.

Saya tidak mengejar alasan dibalik jawaban itu. Toh, pada akhirnya, ia akan memberi kabar jika akan melepas status lajang.

Saya akhirnya bertanya soal rutinitas menulisnya. Dulu, entah berapa bulan yang lalu, ia pernah saya tawari ikut program 30DWC. Dan dia ikut. Alhamdulillah. Saya menawarinya program tersebut karena tahu kesukaannya dengn dunia menulis.

30DWC adalah program pembiasaan menulis. Digagas pertama kali oleh Rezky Firmansyah. Seorang passion writer yang suka mengajak orang untuk rajin nulis. Kini, di kehidupannya yang masih menjomblo, ia sudah menelorkan puluhan buku.

Kalau pengen tahu lebih lanjut soal 30DWC, bisa saya beritahu suatu hari nanti. Di post-post berikutnya. Insya Allah.

“Gimana, masih lanjut program 30DWCnya?” Saya mau ngejar dan minta tanggapan. Dulu, ketika awal-awal membangun kebiasaan menulis, saya sampai harus ikut 30DWC selama 3 kali. Atau 4 kali. Agak lupa.

“Wah, berhenti, pak.” Singkat sekali jawabannya. Saya tunggu hingga detik berikutnya, tidak ada penjelasan tambahan. Atau sekedar jawaban penenang lainnya.

Hingga akhirnya, di menit ke sekian, “Saya menulis masih karena terpaksa, pak,” lanjut dia.
Wah, ternyata 30DWC belum sukses memaksa dia rajin menulis. Padahal, menurut sebuah teori, untuk membangun sebuah kebiasaan, kita membutuhkan setidaknya minimal 14 hari untuk terus melakukan kebiasaan tersebut.

30DWC mengajarkan pengikutnya untuk bisa bertahan menulis 30 hari tanpa putus. Kok bisa dia masih merasa terpaksa?

Saya akhirnya mengembalikan ke diri saya. Lupa. Saya pun harus ikut 3 atau 4 periode untuk membangun kebiasaan menulis saya. Hasilnya? Tidak terlalu menggembirakan menurut saya. Walau tentu ada perubahan positif soal kebiasaan menulis saya tersebut.

“Paksa teroos, mas. Sampai hilang terpaksanya.” Balasan chat saya lebih tepat untuk diri sendiri. Benar. Saya pun kadang, masih harus memaksa diri untuk menulis. Itulah mengapa, saya bela-belain ikut ODOP Batch 7 ini. Salah satunya, agar terus bisa memaksa diri saya untuk menulis.


1 komentar:

  1. Setujuuu.. kadang kalau nggak dipaksa kaya ikut ODOP ini, ide banyak tapi nggak segera dieksekusi.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.