Saya Feature, Kamu?



Bicara soal genre tulisan, saya sebenarnya bingung. Betul. Sebab saya belum pernah sekalipun mengeceknya. Saya adalah tipe orang yang cuek. Sehingga, urusan genre, bukan hal penting bagi saya. Lalu, seperti apa tulisan saya?

Suatu kali, saya pernah disuruh menulis. Semacam berita kegiatan. Oleh seorang wartawan media massa Islam. Ketika itu saya share foto kegiatan tahunan santri saya. Dan dia nantang saya untuk menuliskan berita dibalik foto itu.

Singkat cerita, jadilah sebuah tulisan panjang. Yang menurut saya, itulah beritanya. Tentu versi sendiri. Setelah banyak kritik dan masukan, dia komentar begini: "Ente cocok nulis feature."

Apa itu feature?

Ketika belajar jurnalistik, mentor saya mengajarkan tiga tahapan proses jurnalistik. Yang pertama, tahapan mengabarkan. Tahap ini membutuhkan data. Dan menghasilkan tulisan berupa news, atau berita.

Untuk produk di tahapan ini, setidaknya dibutuhkan data dasar yang terangkum dari jawaban 5W+1H. Yaitu what, when, where, who, why dan how. Data ini kemudian diolah menjadi news.

Tahapan berikutnya adalah menceritakan. Tahap ini berbasis kisah dan menghasilkan tulisan berupa feature. Ciri feature setidaknya ada tiga. Pertama, ada kedalaman isi. Kedua, ada keindahan bahasa dan diksi. Terakhir, ada kejelasan sudut pandang.

Selanjutnya, tahapan ketiga adalah mengutarakan. Dia berbasis analisa. Dan menghasilkan opini. Kejesalan sudut pandang dalam menulis feature, bisa dibilang cara lain untuk membuat opini.

Opini adalah produk jurnalistik yang ditulis berdasarkan opini penulis, sehingga ia boleh tak memiliki sumber. Sebab, sumber utama adalah si penulis itu sendiri. Namun, penulis opini harus punya kemampuan menganalisa. Dan, karyanya tetap harus berbasis data. Sebab, tak mungkin bisa menganalisa tanpa ada data.

Nah, menurut wartawan tersebut, tulisan saya lebih cenderung ke arah feature. Entahlah. Ini penilaian dia. Bukan saya. So, inilah genre saya mungkin dalam menulis.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.