ODOP
Jangan Mati Kalau Belum Baik
Pagi tadi, Sabtu (14/9/2019), saya ikut
mengiringi prosesi pemakaman salah seorang ustadz. Saya dan rombongan sudah di
tempat sejak subuh. Sebab kabar yang beredar, jenazah akan dikuburkan ba’da
subuh. Ternyata, ba’da subuh adalah takziyah. Dan, di sinilah, subhanallahi,
kesaksian atas kebaikan mayit semasa hidup tergambarkan.
Saya tidak kenal persis siapa dia dan
bagaimana sejarah hidupnya. Kecuali hanya sekedar nama dan cerita mengenai dia
secuil saja. Dan apa yang saya dengar dalam takziyah tadi, menambah
cerita-cerita tersebut.
Tiga orang yang memberi kesaksian dalam
takziyah tersebut, semua sepakat dalam satu hal. Tentang kepribadian sang
ustadz semasa hidup. Bahwa dia adalah orang yang selalu mudah memberi
pertolongan kepada orang lain.
Konon, dalam memberi pertolongan, akal sang
ustadz tidak berfungsi. Artinya, logikanya tidak berjalan. Tanpa pikir dan
tanpa tapi. Langsung memberi pertolongannya.
Karakter sang ustadz yang mudah menolong
tersebut menjadi memori setiap orang yang pernah berinteraksi langsung. Dan
semua sepakat. Bahwa sang ustadz memiliki akhlak pemurah tersebut.
Masya Allah.
Ternyata menjadi orang baik itu penting. Dan
harus kita lakukan. Sebab itulah yang seharusnya menjadi kenangan dan
pembicaraan orang ketika kita telah dipanggil olehNya.
Alangkah ruginya, jika yang dikenal orang
dari diri kita adalah keburukan dan kejelekan.
Tak heran, seorang ulama berpesan kepada
kita agar selalu meminta kepada Allah tiga hal. Pertama, memohon agar
diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Kedua, meminta kepada Allah agar
diberi kesempatan bertaubat sebelum diwafatkan. Dan ketiga, memohon kepadaNya
agar hati kita ditetapkan dalam agamaNya.
Ini tiga doa sederhana, tapi tidak boleh
disepelekan. Semoga kita semua dimampukan untuk menjadi orang-orang baik. Dan
mampu memberi jejak-jejak kebaikan.
Tidak ada komentar