![]() |
Ilustrasi dari kompasiana.com
|
Suatu hari seorang murid mengadu ke gurunya. Tentang kemiskinan
yang dia
deritanya. Dan bahwa ia butuh materi lebih banyak untuk mencukupi
kebutuhannya. Akhirnya, ia mohon izin ke gurunya. Ia berniat hijrah ke negeri
seberang.
“Tabe, ustadz. Mau ka’ izin ke India. Ada temannya pace ku
di sana yang kaya raya. Siapa tahu dia mau kasi’ ka pekerjaan.”
“Ndak. Saya ndak izinkan ko ke sana.” Potong gurunya cepat.
Sang murid mundur teratur. “Iye, paeng ustadz.” Ia
sebenarnya kaget. Tidak mengira akan mendapatkan jawaban seperti itu. Tapi,
adabnya kepada guru jauh lebih ia pentingkan. Sambil terus menjaga asa untuk
tetap ke sana.
Waku terus berjalan. Kebutuhan hidup terus bertambah.
Pemasukannya makin tidak sebanding dengan pengeluarannya. Ia rasa, tambah
semoit rezekinya. Dan akhirnya, untuk kali kedua, ia menghadap lagi untuk izin.
“Tabe, ustadz. Siapa tahu boleh mi. Perlu sekali ka ke India
untuk ketemu sama itu temannya Pace ku. Saya yakin dia bisa tolong ka. Karena
teman baiknya bapak ku dulu itu waktunya masih hidup.” Terus saja sang murid
merajuk dan membujuk. Agar ia diizinkan ke India.
“Ndak. Saya ndak izinkan ko ke sana.” Potong gurunya cepat.
Jawaban yang sama untuk permintaan yang sama beberapa waktu lalu.
Sang murid pulang dari rumah gurunya dengan hati
bertanya-tanya. Apa gerangan yang membuat ia gagal mendapatkan izin? Apa
salahnya? Salahkah jika ingin memperbaiki kondisi ekonominya?
Ia istighfar berulang-ulang. Mencoba menahan emosi. Dan
tetap berusaha menjaga adab kepada gurunya. Pilihannya hanya bersabar. Sambil
muhasabah diri. Berhari-hari ia evaluasi dirinya.
Tiba-tiba ia tersadar. Ternyata, niatnya yang salah. Ia
ingin ke India dan bergantung pada teman ayahnya. Padahal Allah-lah yang
memberi rezeki. Bukan teman ayahnya yang kaya raya itu. Segera ia bertaubat.
Dan kembali ke gurunya.
“Tabe, ustadz. Mau ka minta izin dan restu untuk ke India. Mau
cari rezeki di sana. Siapa tahu Allah mau bantu ka di sana nanti.”
“Baiklah. Aku memberimu izin.” Jawab gurunya sambil
tersenyum.
***
Ini adalah hari pertamaku (kembali) ngODOP. Juga bagi
ratusan orang lainnya yang tergabung dalam ODOP Batch 7. ODOP adalah sebuah gerakan
yang menggerakkan orang untuk lebih sering menulis; One Day One Post.
Di hari pertama ini, saya mencoba bertanya ke hati terdalam.
“Hai, Adjie. Apa tujuanmu ngODOP? Untuk kepopuleran? Untuk dikenal bahwa kau
penulis?”
Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Agar pengembaraan saya
dengan dunia menulis, bersama ODOP tentunya, tidak salah dan keliru. Kalau
niatnya sedari awal sudah salah, maka dalam proses pasti akan menemui jalan
terjal. Niat sudah benar saja belum tentu akan berproses dengan baik. Apalagi
belum benar.
Maka, niat adalah langkah awal. Salah seorang ulama
mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang aku lebih berusaha perbaiki kecuali niatku.”
Menulis untuk konsumsi umum tentu ada konsekuensinya. Ia
sama halnya dengan berbicara secara lisan. Akan ada pertanggung-jawabannya
nanti. Cukuplah menjadi pengingat, bahwa “Tidaklah sesuatu keluar dari
lisannya, melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatatnya.” [Q.S.
Qaaf : 18]
Karenanya, dalam menulis, niat perlu selalu diperbarui. Dan diperbaiki.
Sebab niat awal bisa melenceng di tengah perjalanan. Dan selalu ingat, bahwa
semua tulisan, di tiap huruf-hurufnya, ada yang harus dipertanggungjawabkan di
sana.

Mantap ... Semoga selalu semangat menulis ...
BalasHapusSangat setuju dengan kalimat di paragraf terakhir.. thank u for reminding me ...
BalasHapusKalimat terakhir ngena banget, itu yang selalu aku takutkan. Katika tulisanku hanya membuat luka pada hati orang lain😢
BalasHapusBener banget, sekarang bukan hanya mulutmu harimaumu tapi juga jarimu harimaumu.. mantap!
BalasHapusMashaAllah bermanfaat sekali, innama 'amalu binniat dalam dalama sesuatu yang mau dikerjakan biar terarah Dan berkah
BalasHapusNiat itu memang sangat penting
BalasHapusKarena terkadang ada orang yg menulis asal2an misalnya statys wa 😁 berniat untuk mengingatkan diri sendiri eh ada yg senasib. Iya kalo kalimat kita doterima baik, kalo jatohnya disana buruk. Bisa adu argumen😂
BalasHapusNiat itu memang sangat penting
BalasHapusTulisannya pengingat banget, semoga niat menulis bisa terus terjaga dan istiqomah, aamiin
BalasHapus