Safety First


Bagi kita yang sering bepergian dengan pesawat, pasti tidak asing dengan himbauan-himbauan keselamatan. Sesaat sebelum lepas landas, awak kabin pesawat akan memperagakan petunjuk keselamatan. Apakah anda tidak bosan dengan kegiatan berulang-ulang itu?

Atau, pertanyaannya dibalik. Untuk para awak kabin. Apakah mereka tidak bosan memperagakan petunjuk itu? Toh, di antara penumpang, tidak banyak yang perhatikan. Atau sebagian besar sudah sering melihat dan memperhatikannya. Lalu, mengapa harus selalu diulang?

Subhanallah. Begitu besar usaha manusia untuk keselamatan dan keberlangsungan hidupnya di dunia.

Saya pernah diserahi tugas naib khotib. Di sebuah rig off shore. Sebuah stasiun pengeboran minyak lepas pantai. Di laut lepas. Untuk ke sana, ada speed boat ukuran besar yang mengantar.

Sebelum naik ke speed, setiap penumpang harus melewati sebuah ruangan. Di ruangan penuh jejeran kursi itu, ada sebuah televisi plasma berukuran besar. Penumpang wajib duduk dan menonton.

Apa yang dilihat? Panduan keselamatan!

Saya sebagai tamu, tentu merasa penting dengan informasi keselamatan itu. Lalu gimana dengan pekerja yang tiap saat bolak-balik ke pengeboran. Apa tidak bosan tiap ke sana harus nonton?

Ketika masuk speed, dipandu petugas khusus, semua penumpang sudah harus memakai pelampung. Masuk ke dalam, satu persatu. Rapi. Teratur.

Subhanallah. Dunia penerbangan. Dunia pertambangan. Dan apa lagi. Begitu tinggi pedulinya pada keselamatan. Hingga kemudian slogan kerjanya: safety first. Utamakan keselamatan.

Lalu, bagaimana usaha kita untuk kesalamatan akhirat kita? Bukankah kita telah tahu bahwa dunia sementara dan akhirat selamanya?

Sayang sekali, ternyata kita kurang peduli dengan keselamatan akhirat kita. Yang menurut informasi dari Allah, di akhirat yang kekal hanya ada surga dan neraka. Surga adalah kenikmatan. Neraka adalah kesengsaraan.

Upaya kita menyelamatkan diri di berbagai sisi kehidupan di dunia ini, tidak berbanding lurus dengan kehidupan akhirat. Padahal seharunya, dunia yang fana ini kita perlakukan biasa, dan akhirat yang kekal kita hadapi tidak dengan biasa-biasa saja.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.