Andai Aku Orang Kaya
Belakangan ini, saya banyak berkhayal. Entah apa sebab pastinya. Apakah karena ekspektasi saya terlalu tinggi. Lalu tidak sesuai dengan asa. Atau karena memang sejak awal sudah kecewa. Entah!
Intinya, saya sering banyak berandai-andai. Khayalan tingkat tinggi. Tapi, tidak tinggi-tinggi amat juga. Sebab saya juga tahu diri. Bahwa saya bukan orang tinggi.
Misalnya, soal masjid.
Saya tipe orang yang gampang gerah. Catat: gerah, bukan geram. Itu beda.
Ketika masuk ke sebuah masjid, pertama yang saya lakukan adalah planga-plongo. Mencari dan mencari: di mana sumber kenikmatan.
Maka, sebelum takbir tahiyatul masjid, saya sudah memastikan diri berada pada posisi paling nikmat. Yaitu di bawah kipas angin. Yang menghantar kesejukan. Menjadi sumber kenikmatan.
Kalau ada kipas angin yang tak bergerak swing, itu akan jadi pilihan pertama saya. Dibandingkan dengan kipas yang membagi kesejukannya.
Yang mengenaskan, ketika shalat jamaah didirikan. Saya kadang sengaja mundur dulu ke belakang. Cukup satu shaff.
Tujuannya: untuk mengatur strategi kapan saat tepat masuk shaff depan. Dan berada pada posisi ternikmat untuk shalat. Di bawah belaian angin si kipas bermesin.
Orang seperti saya ternyata banyak. Saya istilahkan: pemburu sumber angin. Merekalah kelompok orang mudah gerah dan berkeringat. Dan ketika di masjid, yang pertama dicari adalah kipas bermesin.
Yang parah ketika kipasnya tak berfungsi maksimal. Khususnya gerakan memutarnya: swing. Ketika ini macet, maka kipas hanya bertiup ke satu arah.
Di kondisi begini, jamaah biasanya cepat bubar shaff. Baru selesai salam, belum sempat istighfar mungkin, langsung mengambil posisi ternikmat. Yaitu di bawah. Tepatnya di bawah kipas.
Maka yang terjadi mudah ditebak. Pusat sumber angin akan menjadi titik kumpul. Tempat ternikmat melepas gerah.
Eh, kapan mengkhayalnya?
Melihat dan mendapati kondisi begini, otak khayal saya bekerja. Sambil berjalan keluar, saya mulai menganalisa dan menghitung.
Sayangnya sampai di luar masjid, hitungan saya tidak selesai. Analisa saya tak membuahkan hasil. Tapi andai-andai saya tetap jalan.
Ah, andai saya kaya, saya akan sponsori masjid ini untuk memiliki kipas yang berfungsi normal. Agar angin terbagi adil. Dan jamaah bisa konsentrasi ibadah dengan suasana sejuk penuh nikmat.
Atau:
Ah, andai saga punya banyak uang, saya akan beli dan pasangkan AC masjid ini. Berapa ya, hitungan biaya renovasinya agar siap diinstalasi AC.
Supaya kesejukan terbagi merata. Sebab AC lebih canggih daripada mesin kipas. Dan akhirnya bisa beribadah dengan tenang.
Dan andai-andai lainnya. Yang, secara realita, itu hanyalah mimpi di siang bolong.

Tidak ada komentar