Begini Mental Penghuni Neraka
Ketika Allah memerintah penghuni langit untuk sujud kepada Adam, semuanya patuh pada titah. Hanya iblis yang enggan dan memilih berlaku sombong. Hingga Allah murka. Dan sejak itu, Iblis diusir dari Surga.
.
Iblis yang terusir tidak evaluasi diri. Ia malah menyalahkan Adam. Akhirnya ia memasang dendam. Ia bersumpah menyeret anak-anak keturunan Adam agar menjadi penghuni neraka. Kelak, dendam itu terus ia wariskan kepada pengikut-pengikutnya.
.
Adam yang mengetahui segala hidup bahagia di surga. Berbagai fasilitas ia dapatkan dengan gratis. Tapi, ia merasa ada yang kurang. Hingga ia meminta diberi pasangan hidup agar bahagianya lebih lengkap.
.
Kehadiran pasangan baru Adam menjadi celah bagi iblis. Oleh iblis, Hawa, demikian pasangan Adam tersebut diberi nama, dibujuk untuk memakan buah terlarang.
.
Iblis tahu. Menggoda Adam terlalu berisiko. Sehingga Hawa lah yang menjadi pilihan. Memang demikiankah, Hawa diciptakan sebagai makhluk yang mudah tergoda. Dan lelaki, paling tidak bisa mengecewakan pasangannya.
.
Akhirnya Hawa mulai penasaran dengan buah larangan. Kepada Adam, ia mengadu ingin mencicipinya. Sedikit saja, demi mengobati rasa penasarannya yang begitu besar.
.
Tidak ingin melihat Hawa kecewa, Adam menuruti. Diam-diam keduanya mengambil buah tersebut dan memakannya. Allah yang Maha Melihat tahu hal tersebut.
.
Seketika Adam tersadar atas yang telah ia perbuat. Segera ia bertaubat kepada Allah. Pun begitu dengan Hawa. Allah menerima taubat pasangan kekasih tersebut. Tapi konsekuensinya, keduanya harus keluar dari surga.
.
Beda Iblis, lain pula Adam. Walau sama-sama terusir dari surga, sikap keduanya lah yang berbeda. Iblis yang memang congkak dan berwatak keras, tidak mengevaluasi diri. Ia malah menjurumuskan dirinya ke jurang yang lebih dalam.
.
Adapun Adam, ia langsung bersimpuh dan bertaubat kepada Allah. Ketundukan dan kepasrahan Adam itu mengetuk ke-Rahman-Rahim-nya Allah.
.
Dua sikap mental yang bertolak belakang ini adalah pelajaran berharga.
.
Bahwa, ketika kita diberi tahu tentang salah dan kekeliruan kita, seharusnya kita segera sadar. Lalu mengevaluasi diri dan segera merendahkan diri serta meminta maaf.
.
Jangan malah mencontoh mental bebal iblis. Ketika diberitahu salah, malah marah-marah dan semakin menjadi. Alih-alih mau insyaf, malah mencari pembenaran sendiri.
.
Sayangnya, banyak orang yang masih suka dengan mental iblia ini. Ketika ditegur atas kekeliruannya, tidak terima dan malah menyalahkan orang lain.
.
Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari mental penghuni neraka tersebut.
.
Iblis yang terusir tidak evaluasi diri. Ia malah menyalahkan Adam. Akhirnya ia memasang dendam. Ia bersumpah menyeret anak-anak keturunan Adam agar menjadi penghuni neraka. Kelak, dendam itu terus ia wariskan kepada pengikut-pengikutnya.
.
Adam yang mengetahui segala hidup bahagia di surga. Berbagai fasilitas ia dapatkan dengan gratis. Tapi, ia merasa ada yang kurang. Hingga ia meminta diberi pasangan hidup agar bahagianya lebih lengkap.
.
Kehadiran pasangan baru Adam menjadi celah bagi iblis. Oleh iblis, Hawa, demikian pasangan Adam tersebut diberi nama, dibujuk untuk memakan buah terlarang.
.
Iblis tahu. Menggoda Adam terlalu berisiko. Sehingga Hawa lah yang menjadi pilihan. Memang demikiankah, Hawa diciptakan sebagai makhluk yang mudah tergoda. Dan lelaki, paling tidak bisa mengecewakan pasangannya.
.
Akhirnya Hawa mulai penasaran dengan buah larangan. Kepada Adam, ia mengadu ingin mencicipinya. Sedikit saja, demi mengobati rasa penasarannya yang begitu besar.
.
Tidak ingin melihat Hawa kecewa, Adam menuruti. Diam-diam keduanya mengambil buah tersebut dan memakannya. Allah yang Maha Melihat tahu hal tersebut.
.
Seketika Adam tersadar atas yang telah ia perbuat. Segera ia bertaubat kepada Allah. Pun begitu dengan Hawa. Allah menerima taubat pasangan kekasih tersebut. Tapi konsekuensinya, keduanya harus keluar dari surga.
.
Beda Iblis, lain pula Adam. Walau sama-sama terusir dari surga, sikap keduanya lah yang berbeda. Iblis yang memang congkak dan berwatak keras, tidak mengevaluasi diri. Ia malah menjurumuskan dirinya ke jurang yang lebih dalam.
.
Adapun Adam, ia langsung bersimpuh dan bertaubat kepada Allah. Ketundukan dan kepasrahan Adam itu mengetuk ke-Rahman-Rahim-nya Allah.
.
Dua sikap mental yang bertolak belakang ini adalah pelajaran berharga.
.
Bahwa, ketika kita diberi tahu tentang salah dan kekeliruan kita, seharusnya kita segera sadar. Lalu mengevaluasi diri dan segera merendahkan diri serta meminta maaf.
.
Jangan malah mencontoh mental bebal iblis. Ketika diberitahu salah, malah marah-marah dan semakin menjadi. Alih-alih mau insyaf, malah mencari pembenaran sendiri.
.
Sayangnya, banyak orang yang masih suka dengan mental iblia ini. Ketika ditegur atas kekeliruannya, tidak terima dan malah menyalahkan orang lain.
.
Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari mental penghuni neraka tersebut.
Tidak ada komentar