Cuek Bebek
Bagi beberapa kawan, saya dikenal orang yang cuek. Maka saya istilahkan diri saya sebagai cuek-er. Tapi bukan berarti suka ceker. Walau memang seleranya kadang cakar.
Semisal pagi ini, ketika saya dapati nyonya sebelah ngomel-ngomel hingga terdengar ke rumah saya, saya ya cuek. Ngapain saya harus ngurusin. Begitu batin saya berkata.
Pun ketika anak-anak menangis karena sesuatu. Bersebab permintaannya yang tak dipenuhi karena satu dan lain hal. Maka saya, ya, cuek aja. Toh, pada akhirnya dia akan lelah, berhenti lalu diam. Begitu kata batin saya.
Kalau kemudian setelah dicuekin masih tetap menangis, barulah saya berhenti cuek. Saya dekap, peluk dan beri perhatian.
Juga ketika saya dapati ada kerabat kerja yang cerewet. Bahkan sampai marah-marah. Asal dia tidak sampai memukul, saya cuek habis. Biarkan dia capek, kehabisan energi, lalu diam.
Ya, begitulah.
Bagi saya, cuek adalah balasan. Dan juga sekaligus bisa berarti jawaban. Sifatnya temporal. Tergantung situasi dan kondisi.
Dalam sebuah kesempatan muhasabah bersama santri mengaji, saya oleh mereka disebut dingin, kaku, muka datar, dst. Semua sebutan itu, adalah turunan dari kata cuek.
Lalu apakah saya memang benar-benar orang yang cuek? Maybe yes, maybe no. Itu hanya paradigma orang yang bertemu saya.
Dalam penilaian saya pribadi, dan ini tentunya sangat subjektif, saya memang cuek. Tapi itu artinya saya tidak suka mengurusi urusan orang lain. Itu!
Saya cuek pada hal-hal yang perlu saya cuekin. Atau pada hal-hal "yang jika saya cuek itu lebih baik bagi saya".
#30DWC
#30DWCJilid22
#Squad6Empire22
#30DWCJilid22
#Squad6Empire22
Tidak ada komentar