Fudhoil dan Anak Nakalnya
Banyak reaksi yang akan dilakukan orang tua ketika mendapati anaknya tidak sesuai harapan. Ada yang marah. Bahkan sampai memukuli, mungkin. Ada yang kesal, tapi ditahan dalam hati. Dan ragam penerimaan lainnya. Kalau Fudhoil, beda lagi.
.
Siapa Fudhoil? Dia adalah seorang ulama. Bernama lengkap Fudhoil bin ‘Iyaadh bin Mas’uud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbuu’iy. Seorang ulama dan muhaddits besar yang hidup di abad ke 2 Hijriyah. Dan wafat pada 187 H.
.
Dulunya, sebelum menjadi ulama besar, Fudhoil adalah seorang perampok. Ia ditakuti oleh para pedagang yang akan melewati wilahanya. Sehingga setiap rombongan pedagang mau lewat, mereka harus berhitung dan menganalisa apakah ada Fudhoil atau tidak di lintasan mereka.
.
Hingga akhirnya hidayah menyapa Fudhoil. Ia bertaubat dan menghabiskan sisa hidupnya di Makkah dan Madinah. Menjadi seorang ulama dan muhaddits besar.
.
Menjadi ulama besar, bukan jaminan anak-anak keturunan juga mendapat hidayah yang sama. Dikisahkan, Allah pernah menguji Fudhoil dengan kenakalan anaknya. Dia seorang ulama, tapi anaknya nakal. Tidak ada cerminan bahwa adalah anak seorang ulama.
.
Benarlah, bahwa hidayah itu bukan warisan. Ia murni datangnya dari Allah. Dan Dia berikan kepada siapa saja yang Dia inginkan.
.
Menghadapi kenakalan anaknya, Fudhoil kemudian memperkuat doa dan usahanya. Khususnya do'a, dia tak pernah melewatkan doa agar anaknya menjadi baik akhlaknya.
.
Setiap hari, ia berdoa "allahumma inni 'ajaztu an ishlahi waladi fa-ashlih-hu li." Artinya: Ya Allah, sungguh aku ini lemah dan tak berdaya dalam memperbaiki akhlak anakku. Maka perbaikiliah dia untukku.
.
Demikian doa Fudhoil. Hingga saatnya tiba, anaknya pun meninggalkan kenakalannya.
Siapa Fudhoil? Dia adalah seorang ulama. Bernama lengkap Fudhoil bin ‘Iyaadh bin Mas’uud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbuu’iy. Seorang ulama dan muhaddits besar yang hidup di abad ke 2 Hijriyah. Dan wafat pada 187 H.
.
Dulunya, sebelum menjadi ulama besar, Fudhoil adalah seorang perampok. Ia ditakuti oleh para pedagang yang akan melewati wilahanya. Sehingga setiap rombongan pedagang mau lewat, mereka harus berhitung dan menganalisa apakah ada Fudhoil atau tidak di lintasan mereka.
.
Hingga akhirnya hidayah menyapa Fudhoil. Ia bertaubat dan menghabiskan sisa hidupnya di Makkah dan Madinah. Menjadi seorang ulama dan muhaddits besar.
.
Menjadi ulama besar, bukan jaminan anak-anak keturunan juga mendapat hidayah yang sama. Dikisahkan, Allah pernah menguji Fudhoil dengan kenakalan anaknya. Dia seorang ulama, tapi anaknya nakal. Tidak ada cerminan bahwa adalah anak seorang ulama.
.
Benarlah, bahwa hidayah itu bukan warisan. Ia murni datangnya dari Allah. Dan Dia berikan kepada siapa saja yang Dia inginkan.
.
Menghadapi kenakalan anaknya, Fudhoil kemudian memperkuat doa dan usahanya. Khususnya do'a, dia tak pernah melewatkan doa agar anaknya menjadi baik akhlaknya.
.
Setiap hari, ia berdoa "allahumma inni 'ajaztu an ishlahi waladi fa-ashlih-hu li." Artinya: Ya Allah, sungguh aku ini lemah dan tak berdaya dalam memperbaiki akhlak anakku. Maka perbaikiliah dia untukku.
.
Demikian doa Fudhoil. Hingga saatnya tiba, anaknya pun meninggalkan kenakalannya.
Tidak ada komentar