Antara Sabar dan Syukur
Seorang kawan cerita. Sebutlah namanya Hasyim. Sepulang kerja, ia ditodong pertanyaan oleh sang istri. Layaknya catur, pertanyaan itu mirip skak mat. Salah langkah bisa berakibat fatal. Salah jawab, membahayakan.
"Mas," kata istrinya sambil mengambil tas bawaannya, "selama kita menikah, Mas sering bersabar atau banyak bersykurnya?"
Hasyim tentu saja heran. Dengan pandangan sedikit menyelidik, ia mencoba mencari tahu. Ada apa gerangan dengan pertanyaan tiba-tiba itu?
"Kok pertanyaan aneh gitu, dek?" tanyanya penuh keheranan.
Mudah saja Hisyam menjawab sesuai kenyataan. Bahwa kadang ia bersabar dengan tingkah istrinya. Tetapi tetap saja ada lebih banyak hal yang menurutnya bisa disyukuri.
Hanya saja, logikanya mengatakan ada sesuatu dari pertanyaan tersebut. Membuat Hisyam menahan diri untuk langsung menjawabnya.
"Nggak, kok, Mas. Adek pengen tahu aja," jawab istrinya diplomatis.
Tetapi Hisyam tetap belum memberi jawaban. Ia masih tetap merasa ada sesuatu.
"Ya udah, ntar Mas jawab, ya? Mau mandi dulu!" Hisyam ingin menangguhkan jawaban. Sambil mencari-cari jawaban filosofis dari pertanyaan jebakan tersebut.
"Oke, deh. Adek tungguin sambil buatin kopi, ya?"
... Bersambung

Tidak ada komentar