Mengukur Dunia

Saya benar-benar terpukul rasanya hari ini. Mulai pagi hingga malam ini (Sabtu, 22/2/2020), boleh dikata perut saya selalu berisi. Artinya selalu kenyang.

Sejak pagi usai subuh, suguhan kopi 7 elemen sudah tersaji di meja. Ditemani dadar gulung, roti goreng isi patutan kelapa dan kue janda.

Jelang siang, ada lagi undangan. Kali ini durian. Juga sajian ikan bawal bakar. Lengkap dengan sambal dabu dabunya.

Siangnya, usai zhuhur berjamaah, ada lagi panggilan. Kali ini makanan khas Luwu Raya bernama kapurung. Dengan pelengkap udang dan bandeng bakar.

Malam ini, barusan saja, diundang lagi makan ikan bakar. Saya perhatikan, kayaknya sejenis Nila. Entahlah. .

Pemenuhan perut yang demikian itu, membuat saya bertanya pada diri. Astaghfirullah. Untuk urusan perut yang berujung menjadi tahi, saya begitu mudahnya memenuhinya.

Bandingkan dengan urusan rohani. Baru sedikit yang diselesaikan, udah mata mulai bosan. Seolang ingin segera berhenti. 

Tetiba teringat sebuah perkataan tentang bagaimana mengukur kuakitas diri. Apakah ia berorentasi dunia atau akhirat.

Caranya mudah. Coba lihat, kebutuahn apa yang paling sering terpenuhi dalam hidup kita. Itu adalah  gambaran orentasi hidup kita.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.