Antara Sabar dan Syukur (2)

Sambil mandi, Hisyam memutar otak. Mencoba mencari jawaban yang tepat. Atas teka teki yang baru ia dapatkan.

Di penghujung mandinya, ia seketika teringat sesuatu. Dan ia sangat yakin, sesuatu tersebut bisa menjadi jawaban tepat.

Di ruang tengah, istrinya menanti tak sabar. Kopi khas  Seko favoritnya masih mengepulkan asap. Sungguh sajian sore yang memikat dan nikmat.

"Jadi, gimana Mas?"

Hisyam mengambil kopinya. Dia seruput pelan-pelan. Sambil berhamdalah, sensasi pedas pahit dari kopi Seko ia nikmati perlahan.

"Sebenarnya, sejak hidup bersama Adek, Mas banyak bersyukurnya, sekaligus sering bersabar." Jawaban yang fifty-fifty.

"Maksudnya?" Istrinya penasaran.

"Intinya, antara sabar dan syukur, Mas selalu merasakannya," Hisyam masih diplomatis.

"Dominannya, apa Mas?" Istrinya juga mengejar.

"Sejujurnya, sih, banyak sabarnya," jawab Hisyam akhirnya.

Sambil berkaca, istrinya menghambur ke dalam pelukan Hisyam. Ia tak menyangka, jawaban itu akan keluar dari bibirnya.

"Maafkan Adek, ya, Mas," ucapnya terisak.

Dengan senyum kemenangan, Hisyam memeluk erat istrinya. Ia tak bisa membayangkan, apa jadinya jika jawaban yang ia berikan adalah sebaliknya.

"Tidak ada yang salah, Dek. Justru Mas yang harus minta maaf," katanya penuh makna.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.