Iwan


Siang-siang dapat telpon. "Hai, masih kenal saya, nggak?" Katanya setelah basa-basi apakah saya sibuk atau tidak.

Saya mencoba mengingat suaranya. Ah, belum ada yang cocok dalam memori memori saya. "Siapa, ya?"

"Wah, mentang-mentang udah sukses, lupa ama teman sendiri." Nyindir.

Saya terus memutar memori. Tetap saja tidak mengenali suaranya.

"Emang, siapa, sih?" Saya makin penasaran. Panas musim kemarau, tiupan angin panas kering, beradu dengan penasaran yang mulai menjengkelkan. Untung puasa. Emosi bisa sedikit diredam.

"Iwan." Katanya cepat. "Ingat gak?"

Iwan. Namanya saya rapal dalam hati. Belum ada kenalan saya bernama Iwan. "Iwan siapa?"

"Yang biasa dipanggil Yuda. Masak gk kenal sih?" Ia ngotot bahwa saya mengenalnya. Dulu.

Tapi tetap saja memori saya tidak menemukan potongan kenangan bersama seorang bernama Iwan. Ada, sih. Tapi dosen saya. Teman di kelas. Bukan teman bermain.

Iwan. Yuda. Saya rapal lagi namanya. Nihil. Benar-benar buntu. "Hmm.. Kayaknya gak punya kenalan deh namanya Iwan." Yakin dan pasti.

Tiba-tiba, tuuuut, tuuut, tuuuut. Sebelum saya curiga ini sepertinya ada unsur penipuan, ia menutup telpon.

Setelah saya perhatikan kembali, nomor yang dia call itu adalah nomor baru. Nomor yang saya sematkan di hape untuk keperluan internet -yang sewaktu-waktu segera dibuang-. Baru saja dibeli beberapa hari lalu. Belum sepekan. Dan bagaimana ia bisa tahu secepat itu kalau kalau itu nomor saya?

8 komentar:

  1. Hiks...aku pernah ketipu dgn cara seperti ini juga 😢😢
    Saya dr tim konstantinopel, salam kenal yaa

    BalasHapus
  2. Jaman sekarang berbagai modus untuk penipuan, semoga kita semua terhindar dari penipuan berbentuk apapun. Salam kenal dari Konstantinopel Squad😍

    BalasHapus
  3. Zaman sekarang emang banyak kasus penipuan ya, Kak. Ngeri 🙈

    BalasHapus
  4. Ngeri ya zaman sekarang penipuan Ada Aja caranya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.