Non Muslim Masuk Pesantren

Di Malang dulu, saya pernah punya tetangga non muslim. Tepat di samping rumah. Mereka adalah penduduk asli. Orang biasa sebut dengan Kera Ngalam. Sedang saya adalah pendatang. Yang lucu ketika saya akhirnya pindah.

Oleh pengurus yayasan tempat saya mengabdi sebagai guru ngaji, saya diminta tinggal di kompleks pesantren. Ada rumah dinas yang disiapkan. Setelah diskusi dengan istri, kami terima tawaran itu.

Sebegai guru ngaji, saya diminta harus dekat dengan santri. Amanah saya pun bertambah. Memberikan pendampingan dan pengasuhan kepada sekian santri. Istilahnya sebagai murabbi.

"Bu, aku arep pamit." Setelah beberes barang-barang yang akan dibawa ke rumah dinas, say beranikan diri pamit. Dengan bahasa Jawa Timur-an yang sedikit kaku.

Di antara lima penghuni rumah tetangga itu, keluarga kami paling dekat si Ibu. Dia mengenalkan diri dengan nama Sum.

"Ate nandi, Mas?" Garis wajahnya terlihat terkejut.

Saya jelaskan kepadanya dengan perlahan. Tentang perintah tinggal di kompleks pesantren. Oleh pihak pengelola.

"Tapi, aku oleh gak mrono? Jenguk Ayman ambek Bassam."

Dia tentu saja paham dirinya sebagai non. Makanya dia harus konfirmasi boleh tidaknya masuk ke pondok. Silaturrahmi ke mantan. Mantan tetangga.

"Yo, monggo, Bu. Ora popo pean mrono." Saya meyakinkannya bahwa dia, walau non, boleh masuk pesantren.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.