Tantangan ODOP
Di Antara Dua Wanita
Handphone saya bergetar. Lalu berdering keras. Sebuah panggilan masuk. Dari nomor yang saya kenal berbulan lalu. "Iye, dek?" Saya tidak berani menyapanya dengan sayang sebagaimana sebelumnya.
"Aku rindu Abang." Dia langsung masuk dengan nada memelas. Khasnya kalau ada maunya. "Aku mau Abang balik."
Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku memang masih menyimpan asa. Tapi mengingat kejadian waktu itu, aku tak bisa berharap banyak.
Sekitar 10 bulan lalu, ia sudah wanti-wanti. "Yah, awas, ya. Jangan sampai adek gak diperhatikan lagi." Dia sepertinya sudah membayangkan sesuatu yang ia khawatirkan akan terjadi.
Hingga akhirnya, lima bulan lalu, benar-benar terjadi. Cemburunya menguat. Ia akhirnya declare: "Yah, adek gak bisa begini. Cemburu, tau!"
Pasalnya adalah seorang wanita. Yang hadir dalam hidupku. Hidup kami. Wanita yang akhirnya membuat cintaku terbagi.
Di awal kehadiran wanita itu, ia biasa saja. Dan saya juga biasa awalnya. Tapi, cintaku tumbuh subur. Sangat subur.
Hingga ia merasa tersisihkan. Dan minta aku memilih diantara mereka berdua.
"Abang gak bisa, sayang. Sungguh, kalian berdua aku sayangi. Tidak bisa Abang memilih salah satunya."
"Tapi, sejak dia ada, Abang jarang perhatiin adek. Dia terus. Dia terus. Dia terus."
"Gini, deh." Saya ajak diskusi. Bahwa saya dan dia sudah bersama lima tahunan. Tentu, kalau bisa dibilang, sudah hampir kenyang. Sedang wanita ini, yang baru hadir itu, baru lima bulan adanya. Tidak bisa disamakan.
Perlahan, istri mulai tenang. Tapi, tetap kelihatan belum puas dengan analogi barusan.
"Oke, gini aja." Saya ambil jalan tengah. "Abang mau balik ke Sulawesi. Gak usah ditunggu datangnya."
"Loh, kok malah mau pergi? Ia malah heran dengan ide saya.
"Daripada kita ribut, mending begitu saja." Saya final.
Dan saya akhirnya benar-benar pergi. Ke Sulawesi. Ke kampung orang tua. Dan nyatanya, dia kangen berat.
"Kalau Abang pulang, gimana dengan dia? Ntar adek tetap cemburu sama dia."
"Gampang aja. Abang jangan sayang-sayangi dia depannya adek."
"Maksudnya?"
"Ya, masak dia terus yang dicium. Bundanya nggak? Abang tuh, sejak dia lahir, jarang sudah cium bunda. Dia terus. Pulang masjid, dia lagi. Pulang kantor, dia lagi. Habis makan, dia lagi. Bundanya nggak lagi."
Oh, jadi itu sebab cemburunya. Dia merasa tersaingi dengan kehadiran bayi perempuan kami.
"Aku rindu Abang." Dia langsung masuk dengan nada memelas. Khasnya kalau ada maunya. "Aku mau Abang balik."
Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku memang masih menyimpan asa. Tapi mengingat kejadian waktu itu, aku tak bisa berharap banyak.
Sekitar 10 bulan lalu, ia sudah wanti-wanti. "Yah, awas, ya. Jangan sampai adek gak diperhatikan lagi." Dia sepertinya sudah membayangkan sesuatu yang ia khawatirkan akan terjadi.
Hingga akhirnya, lima bulan lalu, benar-benar terjadi. Cemburunya menguat. Ia akhirnya declare: "Yah, adek gak bisa begini. Cemburu, tau!"
Pasalnya adalah seorang wanita. Yang hadir dalam hidupku. Hidup kami. Wanita yang akhirnya membuat cintaku terbagi.
Di awal kehadiran wanita itu, ia biasa saja. Dan saya juga biasa awalnya. Tapi, cintaku tumbuh subur. Sangat subur.
Hingga ia merasa tersisihkan. Dan minta aku memilih diantara mereka berdua.
"Abang gak bisa, sayang. Sungguh, kalian berdua aku sayangi. Tidak bisa Abang memilih salah satunya."
"Tapi, sejak dia ada, Abang jarang perhatiin adek. Dia terus. Dia terus. Dia terus."
"Gini, deh." Saya ajak diskusi. Bahwa saya dan dia sudah bersama lima tahunan. Tentu, kalau bisa dibilang, sudah hampir kenyang. Sedang wanita ini, yang baru hadir itu, baru lima bulan adanya. Tidak bisa disamakan.
Perlahan, istri mulai tenang. Tapi, tetap kelihatan belum puas dengan analogi barusan.
"Oke, gini aja." Saya ambil jalan tengah. "Abang mau balik ke Sulawesi. Gak usah ditunggu datangnya."
"Loh, kok malah mau pergi? Ia malah heran dengan ide saya.
"Daripada kita ribut, mending begitu saja." Saya final.
Dan saya akhirnya benar-benar pergi. Ke Sulawesi. Ke kampung orang tua. Dan nyatanya, dia kangen berat.
"Kalau Abang pulang, gimana dengan dia? Ntar adek tetap cemburu sama dia."
"Gampang aja. Abang jangan sayang-sayangi dia depannya adek."
"Maksudnya?"
"Ya, masak dia terus yang dicium. Bundanya nggak? Abang tuh, sejak dia lahir, jarang sudah cium bunda. Dia terus. Pulang masjid, dia lagi. Pulang kantor, dia lagi. Habis makan, dia lagi. Bundanya nggak lagi."
Oh, jadi itu sebab cemburunya. Dia merasa tersaingi dengan kehadiran bayi perempuan kami.
Tidak ada komentar