ODOP
Tantangan ODOP
Maaf, Bunda
Setelah mengambil nafas panjang, akhirnya ia bersuara. “Bunda,
izinkan aku ikut berlayar.” Pelan sekali. Tetapi jelas terdengar. Itulah inti
dari prolog panjangnya sejak menghadap tadi. Ingin mendapat restu dari ibunya.
Marlin butuh waktu berhari-hari memikirkan apa yang barusan
ia sampaikan. Waktu yang lama itu juga ia gunakan untuk mengumpulkan
keberanian. Juga ribuan alasan yang kan menjadi argumennya; mengapa ia harus
berangkat. Sebab ia tahu, ibunya tidak mudah memberinya izin.
Mendengar pertanyaan itu, Manda Hudaya diam seribu bahasa.
Lidahnya kelu. Ia belum pernah membayangkan akan ditinggal seorang diri oleh
anak semama wayangnya. Bahkan keluarga satu-satunya.
Pikiran Manda berkelabat ke belakang. Lintasan memori buruk
sepeninggal suaminya menyeruak keluar. Melintas di ruang imajinasinya.
Manda mendadak menjanda. Suaminya wafat ketika Marlin masih
8 bulan dalam kandungan. Hampir saja janin Marlin gugur menyusul ayahnya. Sebab
stress berlebihan yang dialami Manda ketika itu.
Tapi takdir berkata lain. Marlin bisa diselamatkan. Lewat
persalinan normal, bayi yang puluhan tahun dinanti tersebut akhirnya lahir. Manda
memasang tekad kuat. Membesarkan Marlin dan mengantarkanya menjadi orang
sukses.
Sayangnya, garis kesuksesan jauh dari hidup Manda. Usaha
yang diwariskan suaminya terancam tutup. Manda tidak sanggup meneruskannya.
Otak bisnisnya beda dengan mendiang suaminya. Mampet. Tidak jalan. Mengantar
usaha tersebut akhirnya mati, menyusul pendirinya.
Hidup Manda berubah total. Kini, apa saja ia perbuat untuk bisa
membuatnya bertahan hidup beserta Marlin. Setelah tabungannya habis, ia menjual
jasa. Pagi laundry manual. Siang jaga warung tetangga. Malam bantu bikin
adonan.
Begitu seterusnya, hingga ia mampu memiliki usaha mandiri.
Hasil jualan jasanya, ia gunakan untuk modal. Menjadi penjual kue secara
mandiri.
Tetapi, modal kecil tak memberi banyak untung. Untungnya ia
punya jiwa besar dan perasaan selalu cukup. Selalu qonaah atas apa yang ia
dapatkan.
Sambil jualan, ia besarkan Marlin dengan penuh kasih. Menjadi
single parent tak menjadi penghalang. Ia ingin besarkan Marlin dan mejadikannya
orang sukses. Menjadi anak yang taat dan berbakti pada orang tuanya.
Suatu kali, Marlin kecil sakit. Mantri kampung tak mampu
berbuat banyak. Sakitnya tak diketahui. Obatnya apalagi. Berbagai usaha coba
dilakukan Manda. Semuanya tak membuahkan hasil.
Namun, bukan Manda namanya kalau menyerah. Dengan penuh
kasih, dirawatnya Marlin seorang diri. Walau mantri angkat tangan, ia masih meyakini
kesembuhan akan datang. Dan benar. Usaha tak mengkhianati hasil.
Marlin yang hampir kehilangan nyawa akhirnya sembuh. Usaha
keras Manda membuatkan hasil. Sejak itu, cintanya semakin berlipat. Sayangnya semakin
besar.
Perjalanan yang begitu sukar dan panjang membesarkan Marlin,
menjadikan Manda seolah tak ingin berpisah. Permintaan Marlin untuk pergi
merantau belum pernah sekalipun ia pikirkan. Membayangkan akan berpisah dengan
Marlin adalah hal yang paling ia takuti.
“Nak, Bunda khawatir sesuatu menimpamu di tanah rantau.” Ada
nada getir dalam kalimatnya. Manda benar-benar tak ingin berpisah.
“Bunda, sayang.” Marlin bergelayut manja. Ia tahu cara meluluhkan
hati ibunya. Berdialog seperti orang dewasa, sepertinya tak mempan buatnya. “Bunda,
gak usah khawatir.”
Konflik ini mudah ditebak. Marlin sudah jauh hari
mempersiapkan diri. Sedang Manda, tidak ada persiapan matang. Menghadapi Marlin
yang siap dengan seribu alasan dan argumen, menjadikan Manda tahu diri. Ia tahu
watak Marlin sejak kecil.
“Baik, Bunda izinkan.” Ada perasaan berat di sana. Tapi ia
tutupi agar tak menjadi beban pikiran anaknya.
“Baik, Bunda. Nanda akan selalu berkirim kabar. Doakan untuk
kesuksesan Nanda di tanah rantau.” Marlin segera berbalik. Menuju kamar. Menyiapkan
segala keperluannya selama di tanah rantau.
***
Manda melepas Marlin dengan linangan air mata. Ia tak
beranjak hingga kapal yang datang sekali setahun itu hilang di batas pandangan.
Bahkan masih di sana hingga beberapa lama. Meratapi kesendiriannya. Ditinggal
putra semata wayangnya.
Waktu berlalu demikian cepat. Manda semakin tua. Tubuhnya
kurus. Seperti tak terurus. Wajar saja. Satu-satunya motifasi hidupnya pergi. Untuk
waktu yang tak diketahui.
Setiap kali kapal datang, harapannya meninggi. Dengan dada
berdebar, ia menanti dengan sabar. Melihat satu-persatu penumpang yang turun.
Harap cemas anaknya segera nampak di ekor matanya.
Setiap kali kapal datang, tiap kali pula ia pulang dengan
harapan kosong. Marlin tak kunjung pulang. Marlin tak kunjung kelihatan. Hingga
suatu hari, seseorang datang ke rumahnya.
“Mak, anakmu kini jadi orang. Si Marlin telah menikahi
bangsawan kaya raya. Ia sukses di tanah orang,” lapor seseorang. Manda ingat,
orang itulah yang membawa Marlin berlayar.
“Alhamdulillah. Setidaknya, ada kabar bahwa ia masih hidup,”
ucapnya pelan. Nyaris tak terdengar.
***
Waktu terus berlalu. Setahun setelah kabar pernikahan itu,
tersiar sebuah kabar. Dari kejauhan, nampak sebuah kapal mewah sedang mendekat.
Sepertinya milik seorang pangeran. Atau putra kerajaan. Mungkin dari negeri
sebelah.
Manda ikut dalam euforia kehebohan itu. Ia mendekat ke
pelabuahn. Entah mengapa, firasatnya berkata lain. Dadanya bermuruh lebih
kencang dari biasanya. Ia tak sabar ingin melihat siapa yang akan segera turun
dari kapal.
Sekian menit berikutnya, ia seolah terpana. Di ujung tangga
kapal, ia melihat sosok yang ia kenal. Pakaiannya necis berkilauan. Sepintas ia
tak dikenali orang. Tapi naluri keibuan Manda segera mengenalinya. Itu adalah
Marlin.
Di sampingnya berdiri seorang wanita cantik. Pakaiannya
glamour. Serasi sekali dengan sang lelaki di sampingnya. Warga yang berkemurun
mengelukan keduanya.
Mengetahui itu adalah Marlin, Manda segera berlari. Keluar
dari kerumunan. Ia mendekat dan memeluk Marlin.
“Oh, Nandaku,” katanya begitu haru. Orang-orang heran
melihat adegan itu. Marlin juga kaget setengah mati. Tapi ia tak bisa berbuat
banyak.
“Hei, nenek tua. Kamu siapa?” Wanita di samping Marlin
angkat bicara. Ia heran, bahkan jijik dengannya. Ia tak percaya dengan apa yang
barusan ia dengar.
Manda abai. Pelukannya belum lepas. Rindunya belum tuntas.
Dan Marlin, kebingungannya juga belum terjawab.
“Bang, dia siapa, sih? Dia beneran ibumu?” Ia sepertinya tak
ingin mendapat jawaban. Dengan langkah cepat, ia balik badan. Mukanya ketus.
Segera kembali naik ke kapal.
Perlahan, Marlin menguasai diri. Ia lepas pelukan itu.
Segera balik mengejar naik ke kapal. “Say, dengar dulu.”
“Ah, dasar pembohong. Ceraikan aku. Kamu bilang, kamu
keturunan bangsawan. Nyatanya, anak gembel.”
Marlin tersudut. Ia bimbang. Di satu sisi, ia belum begitu
yakin wanita yang memeluknya adalah ibunya. Ia ingat, ibunya adalah seorang
yang rapi dan perhatian dengan kebersihan. Bukan seperti yang memeluknya tadi:
dekil, pakaian compang-camping, kurus tak terurus.
Di sisi lain, istrinya terluka. Ia merasa dibohongi. Bahwa
ia akan disambut oleh ibu mertuanya, sebagaimana kebiasaan bangsawan lainnya.
“Hei, jangan gitu, dong. Dia siapa sih? Aku juga nggak tahu,”
di antara kebimbangannya, Marlin memilih menyelamatkan istrinya terlebih
dahulu. “Dia bukan ibuku. Ibuku tidak begitu,” belanya dengan diksi yang berat.
Di bawah, Manda hampir jatuh pingsan. Mendengar itu, terasa
langit runtuh menimpanya. Hatinya hancur berkeping-keping. Dadanya sesak. “Ya,
Allah. Dosa apa yang aku lakukan, hingga anakku tak mengakui aku sebagai ibunya?”
Ia meratap.
Kapal mewah itu akhirnya menarik jangkar dan mulai berlayar
kembali. Dari atas, Marlin menatap nanar. Ke bawah. Ke arah ibunya terduduk
kaku. “Maaf, bunda,” katanya untuk dirinya sendiri. Ia berjanji dalam hati akan
kembali dan menjelaskan situasinya.
Tapi, hati Manda sudah hancur. Ia tak punya alasan logis;
mengapa ia tak diakui sebagai ibu lagi. Ratapannya menembus langit. Doanya
menyeruak ke atas. Sang Kuasa ikut murka.
Langit tiba-tiba menghitam. Angin bertiup sangat ribut. Laut
yang tenang, ikut murka. Ingin melumat apa yang ada di atasnya. Ombak
menggunung dengan dahsyat. Kapal Marlin terombang-ambing.
Air mulai masuk ke buritan kapal. Semua awak sibuk. Kapal
semakin tak terkendali. Marlin sebagai nakhoda mulai tak mampu menguasai
kemudi. Di saat genting, ia tersentak. Sadar dan mengisyafi diri.
“Turunkan sekoci, segera!” Perintahnya kepada salah satu
awak. Semua orang kaget. Ada apa dengan Marlin.
“Mau ke mana di tengah cuaca begini, mas?” Istrinya teriak
di antar tiupan angin kencang dan hujan deras.
“Maaf, telah membohongimu dinda. Aku kalap. Aku takut
kehilanganmu. Dia adalah ibuku. Aku harus kembali meminta maaf.” Balas Marlin
tak kalah kerasnya. Angin menerbangkan suara mereka. Berbisik di saat begini
tak akan terdengar.
“Sekoci siap, Kapten!” Panggil salah seorang awak.
Susah payah Marlin turun ke sekoci. Berdua dengan seorang
awak kapal, ia membelah badai. Apapun yang terjadi, ia harus balik ke
pelabuhan. Restu ibu di atas segalanya.
Sekoci merapat ke dermaga. Tak ada siapa-siapa di sana.
Sepertinya semua orang takut dengan amukan laut. Marlin tahu harus ke mana.
Dengan berlari Marlin ke rumah ibunya. Derasnya hujan bukan
soal. Angin ribut ia abai. Kilat yang menyambar buka masalah. Ia harus segera
sampai di rumah.
“Bunda..... bunda...... bunda.......,” teriaknya dari ujung
pekarangan. Ia kayak orang kesurupan.
Dari dalam rumah, Manda memasang telinga. Ia yakin, itu
suara Marlin. Segera ia buka pintu. Tepat ketika pintu terbuka, Marlin sampai
depan rumah. Menghambur ia ke pelukan ibunya. “Bundaaa, maafkan kebodohanku. Maafkan
kedurhakaanku.” Ia meraung. Menangis sejadinya.
Di luar, angin mulai reda. Hujan menipis. Tapi ratapan
Marlin semakin hebat. Ia menyesali dirinya yang telah membuat hati ibunya
hancur berkeping.
Dari balik pintu, muncul seorang wanita cantik. Tanpa salam
yang terdengar, ia menghambur ke dalam rumah. Mengambil tangan Manda. Dan sujud
penuh sesal. “Maafkan, anakmu, Bunda. Maafkan kami, Bunda.”
Dari jendela, laut terlihat mulai tenang. Manda mengusap
punggung anak-mantunya. Ia bahagia kini. Seiring dengan laut yang mulai
bersahabat kembali.
*Disclaimer: Cerita ini aslinya adalah Kisah Malin Kundang.
Diubah tanpa mengurangi esensi cerita, untuk mengikuti tantangan “mengubah
ending cerita klasik tanah air” dari ODOP Batch 7.
Akhirnya rindu dan luka sang Manda terobati dengan penyesalan anak dan menantunya
BalasHapusPenyesalan datang terlambat, setidaknya sadar akan kesalahan
BalasHapusImajinatif 👍
BalasHapusCeritanya jadi menarik, bukan jadi anak durhaka, tapi anak yang berbudi.
BalasHapus