Soal Cium Tangan

(Hampir) keliling Indonesia bertugas sebagai pendamping santri, ada banyak hal yang menjadi catatan saya. Salah satunya adalah soal budaya tata krama dan kesopanan. Di mana di setiap daerah, ada saja yang berbeda.

Contohnya soal salaman, cium tangan dan sungkeman.

Saya menemukan hal unik soal ini di Jawa. Sudah menjadi budaya, para santri diajarkan untuk menjunjung tinggi kesopanan di hadapan para gurunya.

Saya yang ke Jawa tanpa mengenal budayanya sebelumnya, agak kaget dengan budaya cium tangan itu. Pertama kali dicium tangan, saya merasa sungkan dan belum pantas.

Sebab, di daerah asal saya, cium tangan tidak sembarangan dilakukan. Ia hanya ada dan berlaku untuk orang tua. Dan orang yang dituakan saja. Dan itu terbatas nya hanya di lingkungan keluarga.

Saya yang ke Jawa tepat saat lulus sarjana, merasa belum pantas tangan saya dicium oleh anak SMA, yang jarak usia kami beda 4-6 tahun saja.

Tapi, sebagai bentuk penghormatan atas budaya setempat, saya ikut dan manut saja.

Walaupun sampling saya hanya satu-dua pondok, tapi menurut pengakuan banyak orang, sudah seperti itulah budaya di Jawa.

Di Kalimantan dan Sulawesi, budaya ini memang ada. Hanya saja, menurut saya tidak seekstrem di Jawa. Sangat beda jauh.

Buktinya, pertama kali  menjadi santri di Sulawesi, saya tidak diajarkan cium tangan kepada guru. Jangankan guru, pimpinan pesantren pun tidak.

Pun ketika di Kalimantan. Hal itu jarang ditemui. Kalau ada, maka itu mungkin orang Jawa yang tetap menjaga budayanya tata krama tersebut.

Saya akhirnya belajar. Ternyata dalam budaya cium tangan itu, ada pesan tersirat. Bahwa, di hadapan guru kita selamanya adalah murid. Bahkan ketika besok-besok sekolah kita lebih tinggi dari dia.

Di sana juga pengakuan "saya bukan siapa-siapa" di hadapan seorang guru. Hingga kapanpun. Bahkan ketika esok, kita menjadi orang.

Secara tidak langsung, ada pengikisan thogo dan kesombongan dalam budaya ini. Sebab, kita tetaplah santri dan murid di mata guru. Dan kita tetap tidak tahu apa-apa.

Karenanya, sejak angkat kaki dari Jawa, saya selalu cium tangan. Kepada orang-orang yang pernah memberi warna dalam pengasuhan, pendidikan, dan penta'diban saya.

Sebab, saya tetaplah santri di hadapan mereka. Hingga kapanpun.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.