Siapa Guru Ngaji Blogger
Ada banyak kisah seputar dunia pesantren yang tak diketahui
orang jamak. Kalau pun ada, mungkin tidak sampai ke “dapur-dapur”nya. Sehingga
cerita yang berkembang dan beredar hanya cerita luaran saja. Padahal, ada
banyak cerita menarik di dalamnya yang layak disajikan.
Saya kerap mendapat cerita yang tak sesuai tentang
pesantren. Seperti: pesantren itu jorok, tempatnya anak-anak nakal, tempat
pelarian, penjara suci, bengkel manusia, dan banyak lagi. Sungguh cerita yang
tak bisa menjadi gambaran tentang pesantren.
Mungkin saja, ada benarnya. Pada satu-dua pesantren. Atau,
pada kasus-kasus tertentu. Tetapi, itu tidak bisa menggeneralisir semua
pesantren yang ada.
Banyak pula anggapan keliru soal pesantren. Katanya,
pesantren bisa memperbaiki orang. Tapi ketika anaknya tak kunjung baik di
pesantren selama tiga-enam tahun, ia kecewa dengan pesantren. Dan dia lupa,
belasan tahun dia turut andil mempengaruhi kelakuan anaknya. Sebelum masuk
pesantren.
Dan banyak lagi cerita-cerita lainnya.
Sebagai guru ngaji di pesantren, saya pengen
menghadirkan cerita-cerita yang tak melulu soal itu. Yang kebanyakannya
berbicara tentang buruknya pesantren. Bahwa, ada banyak kisah-kasih yang layak
diungkap. Bukan catatan kelam soal pesantren.
Blog ini hadir kira-kira untuk tujuan itu. Eksplorasi di
balik dapur pesantren. Tentu tidak semua pesantren bisa terwakili. Sehingga,
eksplorasi saya hanya sebatas apa yang saya alami, dengar, rasa di tempat saya
mengabdi hari ini.
Saya belajar menulis, boleh dikata otodidak. Sejak kecil, semasa di pesantren di tingkat sekolah menengah, buku diary menjadi satu-satunya pelarian dari segala masalah. Belum ada handphone ketika itu.
Interaksi yang begitu sering dan lama dengan diary, membuat saya terbiasa menulis. Dari biasa, akhirnya, boleh dikata menjadi bisa. Walau ala kadarnya. Dan hanya mengikuti feeling. Sebab tak pernah belajar teori menulis yang baik dan benar.
Karena merasa pede bisa menulis, saya beranikan membranding diri dengan Guru Ngaji Blogger. Kebetulan, sejak cerai dengan diary, blog menjadi tempat menautkan hati berikutnya. Ketika, status saya juga telah menjadi guru mengaji. Walau tetap masih nyantri.
Demikianlah. Guru Ngaji Blogger ini akan mencoba menghadirkan apa yang dia lihat, dengar, rasa selama menjadi guru ngaji di pesantren. Hasil interaksi dengan siapa saja. Buah komunikasi dengan siapa saja.

Tidak ada komentar